τяιѕƒ

тяιѕƒ ρяσנє¢т

Linux Enthusiast • Coffee-Fueled Open Source

Passionate about terminals, systems, scripts, and sipping black coffee while fixing bugs

Previous Work

No sponsors. No noise. Just me, code, and bitter coffee



Kadang problem paling ngeselin di operational environment itu bukan server down.

Tapi:

  • kurang visibility

  • telat tahu ada issue

  • baru sadar ada problem pas user mulai complain 😄


Semakin banyak workload berjalan, semakin kerasa kalau:
manual monitoring udah nggak sustainable.

Dan dari situ gue mulai build internal monitoring platform sendiri.

Awalnya simple banget 😄


Awalnya Cuma Mau “Lihat Cron Jalan atau Nggak”


Jujur aja, problem awalnya bukan sesuatu yang fancy.

Gue cuma pengen:

  • lihat cron terakhir jalan kapan

  • success atau fail

  • ada anomaly atau nggak

  • cepat detect issue sebelum jadi chaos


Karena di production environment:
kadang ada job yang silently fail.

Tidak crash.
Tidak alert.
Tidak ada yang sadar.

…sampai akhirnya impact ke workflow lain 😄

Akhirnya gue bikin dashboard kecil buat internal visibility.


Tapi Lama-Lama Scope-nya Keterusan 😄


Begitu dashboard mulai kepake tiap hari, langsung muncul ide baru:

“Kalau sekalian ada realtime alert?”

“Kalau reliability metrics bisa divisualisasikan?”

“Kalau incident bisa di-track?”

“Kalau ada governance layer?”

Dan dari situ project kecil ini mulai evolve jadi observability platform.

Yang menarik justru bukan UI-nya.

Tapi bagaimana kita mulai berpikir tentang:

  • operational visibility

  • reliability

  • trust

  • governance

  • production safety


Monitoring Platform Ternyata Bukan Sekadar Dashboard


Awalnya gue pikir:
yang penting data tampil 😄

Ternyata operational dashboard beda dunia dengan landing page biasa.

Karena dashboard operational harus:

  • cepat dibaca

  • compact

  • responsive

  • tidak noisy

  • tetap usable di mobile/tablet


Dan makin lama mulai banyak component:

  • realtime status cards

  • reliability charts

  • alert monitoring

  • reports

  • operational analytics

  • audit visibility


Di situ baru kerasa:
monitoring platform ternyata lebih dekat ke “operational control center”.


Salah Satu Part yang Paling Menarik: RBAC & Governance


Awalnya role cuma:

  • USER

  • ADMIN


Classic 😄

Tapi makin lama makin kerasa:
ADMIN nggak boleh dianggap root authority.

Karena operational platform eventually butuh:

  • trust boundary

  • governance isolation

  • privileged protection


Akhirnya mulai dipisah:

  • USER → observability visibility

  • ADMIN → operational governance

  • SUPER_ADMIN → platform governance authority


Dan surprisingly…
part ini justru jadi salah satu yang paling seru.

Karena ternyata engineering bukan cuma coding.
Tapi juga soal:

“siapa boleh mengontrol apa?”


Sedikit Kisi-Kisi Architecture 😄


Frontend:

  • Next.js

  • Tailwind

  • Responsive operational UI


Backend:

  • Node.js (current)

  • REST API

  • RBAC handling

  • realtime operational data


Operational direction:

  • observability

  • reliability analytics

  • governance-aware monitoring


Dan yes…
gue sengaja build responsive dari awal karena operational dashboard eventually pasti dibuka:

  • desktop

  • tablet

  • mobile


walaupun ternyata responsive dashboard jauh lebih ribet dari yang gue kira 😄🔥


Contoh Simple Logic yang Ternyata Kepake Banget


Misalnya logic sederhana buat classify operational health:

function classifyHealth(successRate) {
  if (successRate >= 99) return 'healthy';
  if (successRate >= 95) return 'degraded';
  return 'critical';
}

Simple.

Tapi dari logic kecil kayak gini akhirnya bisa berkembang jadi:

  • operational insights

  • incident classification

  • reliability distribution

  • governance reporting


Kadang engineering memang mulai dari hal kecil 😄


Yang Paling Gue Suka dari Project Kayak Gini


Bukan soal teknologinya.

Tapi karena project kayak gini bikin kita belajar:

  • observability thinking

  • production mindset

  • operational awareness

  • governance

  • scalability

  • reliability engineering


Dan menurut gue:
itu jauh lebih valuable dibanding sekadar bikin project demo.


Dan Ini Baru Awal 😄


Honestly…
semakin lama project ini makin menarik buat di-explore.

Masih banyak direction yang lagi dipikirin:

  • infrastructure observability

  • reliability insights

  • distributed monitoring

  • integrations

  • operational governance


Dan gue cukup excited lihat project kecil ini evolve pelan-pelan 😄🔥

Kalau ada yang penasaran atau mau ngobrol soal:

  • monitoring platform

  • observability

  • operational dashboard

  • reliability engineering

  • governance architecture


feel free reach out via email, atau di Telegram Group 😄🚀

Who knows… mungkin next post bakal bahas:

kenapa observability platform eventually butuh governance layer 😄







Semua Berawal dari “Biar Ga Ribet” 😄


Beberapa waktu terakhir saya lagi cukup sering mengembangkan sebuah bot Telegram internal untuk membantu daily workflow dan kebutuhan operasional kecil sehari-hari.

Awalnya project ini sebenarnya sederhana banget 😄
Cuma kepikiran:

“kayaknya bakal lebih praktis kalau beberapa hal bisa langsung dilakukan dari Telegram.”

Karena hampir semua koordinasi sehari-hari juga berlangsung di Telegram group, akhirnya mulai coba bikin beberapa utility kecil yang ternyata lama-lama makin kepake.

Dan ternyata dari project kecil seperti ini malah jadi banyak belajar hal baru.


Dari Kebutuhan Random Jadi Workflow Helper ☕


Selama development, banyak fitur lahir bukan karena planning besar atau roadmap panjang, tapi dari kebutuhan spontan pas lagi dipakai sehari-hari.

Kadang habis deploy atau debugging malah kepikiran:

“eh kalau ada fitur ini kayaknya bakal mempermudah juga.”

Akhirnya satu per satu mulai ditambahkan.

Sekarang bot ini sudah punya beberapa fitur seperti:

  • tracking downtime service

  • status AFK

  • utility helper

  • audit domain & DNS

  • reminder kecil

  • sampai fun feature buat internal group 😄


Dan jujur, justru fitur-fitur kecil seperti ini yang paling sering kepake sehari-hari.


Ketika Telegram Bukan Sekadar Tempat Chat 📊


Salah satu hal yang paling terasa selama pakai bot ini adalah bagaimana workflow kecil sehari-hari jadi terasa lebih cepat dan praktis.

Beberapa hal yang sebelumnya harus buka dashboard terpisah atau dicatat manual sekarang bisa langsung dilakukan lewat Telegram.

Mulai dari:

  • mencatat service yang sedang down

  • melihat history downtime

  • utility checking

  • tracking kondisi tertentu

  • sampai audit domain internal


Simple, tapi cukup membantu mempercepat workflow harian.


Banyak Belajar dari Edge-Case Random 🌐


Walaupun project ini terlihat simple, ternyata sepanjang development cukup banyak hal baru yang ikut dipelajari 😄

Mulai dari:

  • workflow automation kecil

  • handling edge-case random

  • background processing

  • request handling

  • sampai bagaimana bikin fitur yang simple tapi tetap nyaman dipakai sehari-hari


Dan karena dipakai langsung di environment internal, feedback dan ide fitur baru juga terus muncul seiring pemakaian.

Kadang justru ide terbaik muncul pas lagi ngoprek malam-malam 😂


Build Something Useful, Even if Small 🐳


Bot ini sendiri mostly dikembangkan dan dijalankan di environment Linux, Docker, Cloudflare ecosystem, dan internal infrastructure.

Tapi inti paling penting dari project ini sebenarnya bukan soal stack atau teknologinya.

Melainkan bagaimana sebuah ide kecil yang awalnya cuma:

“kayaknya bakal kepake”

ternyata benar-benar membantu workflow sehari-hari 😄

Dan menurut saya project-project seperti ini justru sering jadi tempat belajar paling menyenangkan.


Keep Building 🚀


Saat ini project-nya sendiri masih terus berkembang pelan-pelan.

Masih banyak ide fitur kecil yang pengen ditambahkan untuk membantu workflow sehari-hari supaya lebih praktis, ringan, dan nyaman dipakai.

Semoga postingan ini juga bisa jadi reminder kalau kadang tidak perlu menunggu project besar untuk mulai membuat sesuatu. Karena sering kali, ide kecil yang dibuat dari kebutuhan real justru bisa berkembang jadi sesuatu yang genuinely useful. 

Kalau kamu tertarik ngobrol seputar automation, infrastructure, workflow tools, atau sekadar sharing project random lainnya, feel free join group chat: Telegram Group 🚀


Ada masa di mana seorang opreker Android akhirnya memutuskan untuk “pensiun” dan kembali ke stock ROM bawaan pabrikan 😄 ganti device yang lebih baru sih hehe... Itu juga yang saya alami waktu mau balikin Redmi Note 9 Pro (joyeuse) ke kondisi awal no root, no custom recovery, no mod lagi.


Semua berjalan lancar sampai di tahap flashing via terminal menggunakan script bawaan flash_all.sh. Tapi tiba-tiba muncul error ini:

FAILED (remote: 'Check CRC failed')
fastboot: error: Command failed


Awalnya saya kira file ROM-nya corrupt atau hasil extract-nya rusak. Tapi setelah dicek ulang checksum SHA256 dan ukuran file, semuanya valid. Jadi jelas masalah bukan di ROM-nya.


💥 Penyebab Error “Check CRC Failed”

Ternyata penyebabnya bukan dari ROM, tapi dari tool fastboot bawaan Ubuntu 24.04.

Ubuntu 24.04 membawa fastboot versi 36.0.0, sedangkan ROM Xiaomi lama (terutama MIUI 12–14) masih menggunakan format dan mekanisme CRC lama yang tidak cocok dengan fastboot versi terbaru.

Fastboot terlalu baru, ROM-nya terlalu lama 😅


🧰 Solusi: Gunakan Fastboot Versi 33.0.3

Setelah beberapa percobaan, solusi yang benar-benar berhasil yaitu turunkan versi fastboot ke 33.0.3 dari Android SDK Platform Tools.

  • Hapus Fastboot Lama

sudo apt remove fastboot -y

  • Download dan Extract Platform Tools Versi 33.0.3

Unduh langsung dari situs resmi Google:
👉 https://developer.android.com/studio/releases/platform-tools

Atau langsung lewat terminal:

wget https://dl.google.com/android/repository/platform-tools_r33.0.3-linux.zip
unzip platform-tools_r33.0.3-linux.zip

  • Pindahkan ke Lokasi Permanen

sudo mv platform-tools /usr/local/platform-tools

  • Tambahkan ke PATH Sistem

echo 'export PATH=$PATH:/usr/local/platform-tools' >> ~/.bashrc
source ~/.bashrc

  • Verifikasi Instalasi Fastboot

fastboot version

Pastikan keluar output seperti ini:

fastboot version 33.0.3-8952118
Installed as /usr/local/platform-tools/fastboot


⚡ Flash ROM Xiaomi

Sekarang lanjut ke proses flashing stock ROM tanpa lock BL. Pastikan kamu sudah download ROM fastboot versi global yang sesuai untuk device kamu (contohnya joyeuse_id_global_images...).

1. Extract File ROM

tar -xvf joyeuse_id_global_images_V14.0.1.0.SJZIDXM_*.tgz

2. Masuk ke Folder Hasil Extract

cd joyeuse_id_global_images_*/

3. Beri Izin Eksekusi Script Flash

chmod a+x flash_all.sh

4. Jalankan Flashing

sudo ./flash_all.sh

Tunggu prosesnya sampai selesai. Script ini akan otomatis mem-flash seluruh partisi hingga reboot ke sistem MIUI bawaan.


🚀 Hasil Akhir

Setelah saya turunkan fastboot ke versi 33.0.3, proses flashing langsung sukses tanpa error CRC. Device reboot normal dan kembali ke stock ROM MIUI bawaan.

“Check CRC Failed” bukan karena ROM rusak, tapi karena fastboot versi 36 di Ubuntu 24.04 belum kompatibel dengan format CRC lama Xiaomi. Solusinya sederhana: downgrade fastboot ke versi 33.0.3.


🧭 Kesimpulan Singkat

TahapKeterangan
🔍 Masalah“Check CRC Failed” saat flash ROM Xiaomi
💡 PenyebabFastboot v36 tidak kompatibel
🛠️ SolusiGunakan Fastboot v33.0.3 dari Android SDK
✅ HasilFlashing sukses tanpa error

Dengan langkah ini, kamu bisa flash stock ROM Redmi Note 9 Pro (dan seri Xiaomi lainnya) dengan aman di Ubuntu 24.04 tanpa pusing CRC error. Kadang masalahnya bukan di device atau ROM, tapi di tool yang terlalu canggih untuk firmware jadul 😅.


 


Kamu pengguna Windows tapi mulai penasaran dengan Linux? Tapi takut ribet dan tampilannya asing? Nah, kenalin: AnduinOS sistem operasi GNU/Linux berbasis Ubuntu yang tampilannya mirip banget sama Windows 11.


🔹 Apa Itu AnduinOS?

AnduinOS adalah distro Linux yang dirancang supaya familiar bagi pengguna Windows. Dibuat oleh Anduin Xue, seorang engineer Microsoft (bukan dari tim Windows), Anduinos bisa dibilang sebagai “Linux buat orang yang belum siap move on dari Windows.”


🔹 Kesan Pertama

Begitu booting, tampilannya langsung bikin “loh ini Linux?”
• Taskbar di bawah
• Start menu ala Windows
• Quick settings dan notification tray yang mirip banget sama Windows 11

Tapi saat buka terminal… baru deh terasa “aura Linuxnya.”


🔹 Fitur Menarik

✅ Berbasis Ubuntu — stabil, didukung komunitas luas
✅ Ringan — ISO cuma sekitar 2 GB
✅ No telemetry — lebih aman dan private
✅ Flatpak & App Center siap pakai
✅ Tampilan modern pakai GNOME yang dimodifikasi

Cocok buat laptop tua, PC harian, atau bahkan user newbie yang cuma mau browsing dan ngetik.


🔹 Cocok Buat Siapa?

  • Pengguna Windows yang mau coba Linux tanpa kaget
  • Orang tua yang perlu OS stabil tapi gak ribet
  • User yang gak suka Windows 11 tapi masih butuh feel-nya
  • Pelajar juga oke sih

🔹 Kesimpulan

Anduinos bukan distro Linux revolusioner, tapi penyelamat bagi yang mau migrasi pelan-pelan dari Windows.
Desainnya bersahabat, isinya powerful, dan… dibuat oleh orang dalam Microsoft. Menarik, kan?

 

🎯 Coba aja langsung di: www.anduinos.com

#AnduinOS #Linux





Ditulis dengan bantuan AI 

Sudah cukup lama blog ini terbengkalai. Bukan karena kehilangan semangat. Bukan juga karena sudah tidak ada yang bisa dibagikan. Tapi karena satu hal yang mungkin juga kamu rasakan: waktu yang makin sempit, dan fokus yang terpecah.


Dulu, blog ini saya gunakan untuk membagikan rilis custom ROM, kernel build terbaru, dan berbagai tutorial oprek Android. Ada juga catatan seputar Linux, modifikasi sistem, serta troubleshooting yang saya alami sendiri. Semua itu saya tulis agar bisa bermanfaat untuk siapa pun yang kebetulan nyasar lewat Google.


Tapi belakangan, semua itu berhenti. Bukan karena saya berhenti ngoprek justru makin aktif. Tapi sekarang, informasi seolah harus lebih cepat disampaikan lewat video. Banyak yang lebih memilih nonton daripada membaca. Dan akhirnya, saya juga lebih sering berbagi lewat media sosial, YouTube, atau kadang cukup dalam grup atau channel Telegram.


Blog ini, akhirnya jadi museum. Sepi tapi penuh memori.


Apakah Blog Sudah Ketinggalan Zaman?


Muncul pertanyaan: masih pentingkah blog di masa sekarang?

Kita tahu, video dominan. Tapi blog punya satu kekuatan yang sering dilupakan: struktur dan kedalaman. Ketika orang cari referensi soal flashing, perbandingan ROM, optimasi kernel, atau tutorial command-line, artikel blog yang rapi masih jadi pilihan utama.


Bahkan saya sendiri pun sering "nyasar" ke blog lama orang lain saat cari solusi teknis dan di situlah saya sadar: “Eh, ternyata blog masih punya tempat, ya.”


Blog = Arsip dan Dokumentasi yang Bernilai


Tidak semua orang langsung ingat apa yang pernah mereka utak-atik 3 tahun lalu. Tapi kalau sudah sempat nulisnya di blog, tinggal buka arsip, dan ingat lagi alurnya. Blog juga menjembatani kita dengan pengguna yang lebih luas: dari pemula yang baru belajar, sampai developer yang ingin tahu pendekatan berbeda.


Dan dari sisi SEO, blog masih jauh lebih kuat dibanding konten pendek. Apalagi untuk keyword teknis yang spesifik.


Dan Karena Itulah Saya Menulis Ini…


Hari ini, saya kembali menyapa lewat blog. Mungkin bukan dengan tutorial baru (belum sempat nulisnya), tapi dengan refleksi. Dengan bantuan AI (ChatGPT), saya mencoba menghidupkan kembali ruang ini. Setidaknya sebagai pengingat, bahwa saya masih di sini. Masih ngoprek. Masih suka berbagi. Hanya medianya saja yang kadang berubah.


Dan mungkin kamu juga sedang mengalami hal yang sama.


Bagaimana Menurutmu?


Kamu yang dulu mungkin juga rajin nulis blog tentang oprek, Linux, custom ROM, atau dunia teknis lainnya apa kamu juga merasa blog mulai ditinggalkan?


Apakah kamu lebih nyaman membuat konten video sekarang? Atau kamu juga merasa blog masih penting sebagai tempat dokumentasi pribadi dan referensi publik?


Silakan tinggalkan komentarmu.
Atau tag saya lewat media sosial. Saya benar-benar ingin tahu:
Menurut kamu, apakah blog masih relevan hari ini?







👋 Halo MiFans, selamat datang di rumah kita bersama! Kami sangat senang bisa menyambut kehadiran teman-teman di sini. Komunitas ini adalah tempat di mana semangat kebersamaan dan cinta akan teknologi Xiaomi berkumpul dalam satu wadah.

Di sini, kita saling menghargai. Jangan ragu untuk berkontribusi, bertanya, atau berbagi ide. Mari kita bangun suasana yang ramah, berbagi pengalaman, pengetahuan, dan tentu saja, kegembiraan dalam menggunakan produk Xiaomi. Bersama-sama, kita akan menjelajahi dunia inovasi yang tak terbatas, mendukung satu sama lain, dan menciptakan ikatan yang erat.

Salam hangat, [XFI]

Link Group Telegram Xiaomi Indonesia

Berikut adalah list link telegram group xiaomi indonesia.

Link Telegram Group Xiaomi Indonesia [All Device]


Note: Jika ada link yang broken, Anda bisa langsung PR untuk update link terbaru atau menambahkan group yang baru. 

Terimakasih

     


    Uninstall Apps bawaan ROM tanpa root


    Uninstall apps bawaan tanpa root apakah bisa? Ya tentu jawabanya bisa! Sobat ngoprek kita sama-sama tau ya, aplikasi bawaan rom terkadang mengganggu atau memakan resource karena terlalu banyak. Dari sekaian aplikasi bawa'an rom banyak juga yang tidak kita gunakan. Sering terpikirkan bagaimana sih caranya menghapus aplikasi yang tidak digunakan tersebut....?

    Mari kita mulai saja, hal-hal yang perlu kita siapkan adalah smartphonemu dan komputer. Adapun tools yang kita gunakan adalah adb, maka yang pertama dilakukan adalah install adb di komputermu ya. 

    Nah sebelum dilanjutkan, saya menggunakan OS Linux turunan Debian/Ubuntu pada komputer saya. Berikut cara melakukan installasi adb dan fastboot di Linux. Yang menggunakan windows bisa menggunakan minimal adb fastboot.

    sudo apt install android-tools-adb
    sudo apt install android-tools-fastboot

    Jika sudah selesai installasi atau sudah punya appsnya, kita mulai eksekusi!

    • Yang pertama kita mulai dengan Aktifkan Opsi Pengembang lalu Enable USB Debugging.

    • Selanjutnya koneksikan dengan komputer/laptop kamu, dengan kabel USB yang support ya.

    • Pastikan sudah terkoneksi dan Pastikan sudah authorized ya, dengan cara jalankan command:
    adb devices

     

    • Selanjutnya kita masuk ke adb shell emulatornya:
    adb shell

     

    • Untuk memastikan url name apps bisa cek list apps :
    pm list packages -f

    • Selanjutnya hapus apps yang kamu mau, pada contoh di device yang saya gunakan ini saya menghapus beberapa apps berikut: 

      1. GetApps (Apps store bawaan MIUI) 
      2. Kesehatan digital / Google wellbeing (Apps dari Google)
      3. Saran dan masukan (Apps bawaan MIUI)
      4. Gdrive (Apps bawaan Google)
      5. MSA (MIUI System Ads)
         
    pm uninstall -k --user 0 com.xiaomi.mipicks
    pm uninstall -k --user 0 com.google.android.apps.wellbeing
    pm uninstall -k --user 0 com.miui.miservice
    pm uninstall -k --user 0 com.google.android.apps.docs
    pm uninstall -k --user 0 com.miui.msa.global

    Lancar ga perlu reboot reboot... Maaf, saya hanya memberikan ketikan singkat tanpa screenshot. Selamat mencoba


    Membuat Live USB di Linux Terminal


    Ada banyak metode untuk membuat bootable USB atau Live USB menggunakan Linux. Disini kami hanya akan fokus pada satu metode yang kami direkomendasikan yaitu dd.

    Command Line

    Perintah dd hampir tidak pernah gagal dalam membuat Live USB. Cukup mengubah path yang benar dan tentuanya sesuai dengan sistem Anda.

    CATATAN: Drive USB spesifik /dev/sdx bukan /dev/sdxX. Path paling umum dari drive USB adalah /dev/sdb TETAPI path Anda mungkin berbeda tergantung pada sistem Anda.

    Untuk melihat daftar semua drive yang ada di sistem Anda, jalankan perintah ini:
    sudo fdisk -l

    Perintah lain untuk menampilkan informasi tentang drive:
    lsblk -f

    Catatan: Pastikan Anda umount terlebih dahulu:
    sudo umount /dev/sdX

    Untuk install Live USB ke USB Anda, jalankan perintah berikut:
    sudo dd bs=4M if=/path/to/linuxos-x86_64.iso of=/dev/sdX conv=fsync oflag=direct status=progress

    Perlu diingat dan periksa perintah Anda sebelum mengeksekusi, karena salah memasukkan data mungkin akan merusak data pribadi! Selamat ngoprek!